(Berita Riau Terkini)
Sunyi Tanpa Batas
Cintaku
suci padamu, wahai kekasihku. Malam yang menjelma menjadi wajahmu di antara
sinar kecil yang menghiasi awan, kini kau bersama angin mebawa sejuta kenangan
kembali, meberiku akan tanda cinta yang masih kau simpan bersama kain putih.
Semerbak wewangian menyengat menandakan kehadiranmu di sini. Aku masih
mencintaimu, menunggumu adalah satu kepastian yang ku jenguk bersama malam di
sunyi tanpa batas. Wahai kekasihku, jika kau enggan menyentuhku di gelap malam,
maka sentuhlah aku di mimpi saat aku terlelap. Aku masih tetap menunggu meski
ragamu tak dapat ku sentuh.
Fokus UMSU, 20 Januari 2014
Secangkir Kopi
Ku
temui secangkir kopi hitam di pinggir jalan bersamamu, rasanya pahit dan
warnanya hitam pekat. Ku coba memberi sedikit gula pada kopi, tetap saja
rasanya pahit. Aku bingung harus meberinya apa, agar dia menjadi manis. Suasana
semangkin riuh, kata demi kata kau sajikan begitu saja tanpa menjadi pemanis
kopi yang pahit. Malam juga semangkin gelap panasnya kopi mulai mendingin, lalu
mulai kucoba kembali memberi sedikit demi sedikit gula dan ku aduk secara
berlahan agar manisnya merata. Aku berhasil, kini kopinya terasa manis dan
dapat ku nikmati, bersama rebahan senyumu yang juga mulai merata tanpa harus
ada secangkir kopi hitam yang pahit.
Fokus UMSU, 20 Januari 2013
Daun Jatuh
Benarkah
daun itu telah jatuh? Sekian kali aku bertanya pada sang waktu dan sekian kali
pula aku menelan kenyataan pahit, daun yang tak ku tau kuningnya kini telah jatuh
di atas tanah bersama semua kenangan indah.
Dia
masih hijau! Ku telan ke tak mungkinan yang terjadi kepadanya dan kutanya pada
sang penguasa dalam tirakat “secepat itukah?” aku masih tak mengetahui alasan
apa yang membuatnya cepat pergi dan ntah alasan apa pula sang khalik
memanggilnya secepat itu.
Fokus UMSU, 20 Januari 2013
Aku Terlupakan
Jangan
bertanya, jika kau masih melupakan Aku dalam lalaimu yang menjamur pada setiap
perintah Ku. Pahamilah, sudah sekian banyak yang Ku beri untukmu, mulai dari
kau terbangun hingga kau terlelap. Langkah dan nafasmu adalah milik Ku, setiap
sisi yang kau punya, juga punya Ku. Jangankan datang kerumah Ku, menyebut nama
Ku saja kau tidak pernah sama sekali, yang kau fikir hanyalah senangmu tanpa
memikirkan sedih Ku yang selalu kau lupakan dalam nikmat Ku. Wahai manusia
ingatlah “ajabku lebih” maka betasbihlah setiap langkah kakimu dalam setiap
detik.
Fokus UMSU, 20 Januari 2013
Kembali
Ke Rumah
Kepada : A.B
Aku akan memberimu ikhlas, bila tali
yang kau beri telah putus hingga membawaku pada ombak tinggi bersama angin yang
terbang entah kemana. Tapi bukankah aku mempunyai dua bangau yang selalu
menjaga kesetiaan untuk pulang kerumah. Bersama akan merasa bahagaia, dan
bersama akan lebih indah jika tujuan kita adalah satu “kembali kerumah tanpa
tersesat.” Abaikan semua hal lampau biarkan kita mencium puncak tanpa bayang
kegagalan yang pernah kita jalanani bersama.
Fokus UMSU, 20 Januari 2013
(Riyan haqiqi anshor adalah nama pena Riyan
Pradesyah, lahir pada tanggal 8 mei 1991 di Gunung Melayu. Mahasiswa
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Jurusan Perbankan Syariah ini aktif
dalam Forum Sastra atau Forum diskusi mahasiswa (FOKUS), dan aktif dalam
Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI IBS). Pernah menjuari kepenulisan artikel
yang diadakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah se Sumatera Utara. Karyanya telah
dimuat di beberapa media massa lokal, juga termaktub dalam puluhan buku
antologi.)













0 komentar:
Posting Komentar