Riyan Haqiqi Anshor
(Medan Bisnis, 15 Februari 2015)
Sebelum Hujan Berhenti
Seperi
biasa, rasa ini terlahir dari sunyi yang menyekak tangis. Aku masih saja
melihat jendela untuk melihat jalan yang pernah kau tapaki. tapi bukan untuk
mendekat, melainkan menjauh. Dalam bisik sunyi aku terus mendapati wajahmu, menemu dibalik rasa yang
semakin menggebu untuk bertemu. ini sudah sekian alamanak yang telah kau
tinggalkan, harus berapa sunyi lagi yang menghujam hatiku? Kembalilah padaku,
sebelum hujan benar benar berhenti untuk melupakanmu.
Kopi Malam
Secangkir
kopi ku teguk di malam minggu, menemu pahit yang begitu menelusup. Hitam bukan
pula pada cankir, tapi pada bubuk yang mengubah rasa. Mungkin kau harus
mengerti. Kalau cinta memang sebenarnya tulus dalam rasa. Hanya saja takut yang mengubah semua menjadi pahit hingga
mencapur rasa semakin pahit.
Nada Cinta
Nada
terlantun sempurna menyusup dalam telinga. Dia hanya tersenyum. Dengan ringan
tangan merambas gitar. Suaranya semakin menghentikan aku pada satu nada dasar,
membuat semuanya terasa sempurna. Tidak! Aku tidak boleh terperangkap oleh
lantunan nadanya. Aku harus kembali pada nada tinggi yang membuat gelisa oleh
kepiawainya menyimpan semua nada.
(Riyan
haqiqi anshor adalah nama pena dari Riyan
Pradesyah, lahir pada tanggal 8 mei 1991 di Gunung Melayu. Alumni Universitas
Muhammadiyah Sumatera Utara, Jurusan Perbankan Syariah ini aktif dalam Forum
Sastra atau Forum diskusi mahasiswa (FOKUS), dan aktif dalam Kelompok Studi
Ekonomi Islam (KSEI IBS). juga aktif dalam Diskusi Fiksi. menulis fiksi.
Membaca Fiksi (Universal Nikko + mayoko Aiko) atau yang serig disebut dengan
CENDOL. Beberapa Karyanya telah dimuat di media cetak dan antologi.)












0 komentar:
Posting Komentar