• Masukan Deskripsi Gambar Slideshow Disini
  • Masukan Deskripsi Gambar Slideshow Disini
  • Masukan Deskripsi Gambar Slideshow Disini
  • Masukan Deskripsi Gambar Slideshow Disini
  • Berpuisilah Di dalam Kehidupanmu, Maka Kau akan Menemukan Hatimu

Minggu, 17 Januari 2016

Syahadat Akuntansi ?

Oleh : Riyan Pradesyah
(Waspada, 29 Desember 2015)
Akuntansi, sebuah kata yang dapat membuat imajinasi kita akan berpikir tentang angka-angka, buku besar, debit, kredit, neraca, saldo dan lain-lain. Tidak dapat dipungkiri, ke adaan kata akuntansi memang dapat membuat kita untuk memikirkan angka atau nominal-nominal yang terdapat di dalamnya. Untuk itu, akuntasi juga dikatakan sebagai masternya ilmu perhitungan, yang di mana didalamnya mengandung semua komponen perhitungan, dimulai dari perkalian, penjumlahan, pembagian dan pengurangan.
      Di dalam kehidupan sehari-hari, biasanya kita juga menggunakan ilmu akuntansi yang secara tidak sengaja kita lakukan. Misalnya, dalam pengelolaan uang yang kita terima setiap bulannya atau setiap minggu, maka kita akan membagi uang tersebut ke dalam suber-sumber kebutuah kita sehari-hari dengan cermat. Di dalam kejadian tersebut, tanpa sengaja kita sudah mempraktikan ilmu akuntasi. Walaupun hal tersebut tidak kita tulis di dalam buku atau pencatatan secara terperinci.
      Sebelum penulis melanjutkan pembahasan tentang akuntansi, penulis akan memaparkan terlebih dahulu pengertian akuntansi menurut America Insitute of Certified Public Accounting (AICPA) mendefenisikan akuntansi sebagai seni pencatatan, penggolongan, dan pengikhtisaran dengan cara tertentu dengan ukuran moneter, transaksi dan kejadian-kejadian yang umumnya bersifat keuangan termasuk menafsirkan hasil-hasilnya.
      Berbica tentang akuntansi, maka kita berbicara tentang Lucas Pacioli, yang kini dikenal sebagai bapak akuntasi dunia. Beliau telah di katakana sebagai bapak akuntasi dunia, disebabkan oleh bukunya yang berjudul “Summa de Arithmatica, Geometrica, Proportioni et Proportionalita,” yang berisi tentang pelajaran ilmu pasti, telah tersebar di benua eropa barat dan dikembangkan oleh para ilmuan barat dengan acuan buku tersebut. Sebenarnya, di dalam buku Luca Pacioli yang telah diterbitkan sejak tahun 1494, hanya menjelaskan tentang metode sederhana yang telah digunakan oleh pedagang Venesia selama zaman Renaisance Italia. Buku inilah yang kemudian tersebar di benua Eropa Barat, semenjak abad ke 15, dan kemudian dikembangkan kembali oleh para ahli-ahli akuntansi sehingga timbulah beberapa sistem akuntansi dengan tetap mengacu pada metode yang digunakan oleh Luca Pacioli. Sebagai contoh, beliau mendeskripsikan penggunaan jurnal dan pembukuan, dan juga memperingatkan bahwa seseorang tidak boleh tidur di malam hari apabila debit BELUM SAMA dengan kredit. Hal tersebutlah yang menjadikan Luca Pacioli sebagai bapak akuntasi dunia, yang disebabkan oleh bukunya yang telah dipakai dalam pengembangan ilmu akuntasi yang sekarang kita gunakan.
      Bila kita mengkaji lebih dalam lagi, maka kita akan menemukan pembukuan sebelum zaman Luca Pacioli, yang dikenal dengan nama “Kitabat Al-Amwal,” atau pencatatan uang. Kitabat Al-Amwal ini dikenal sejak pada zaman Rasulullah (1-23 Hijria), kitab tersebut digunakan dalam pencatatan keuangan disuatu lembaga keuangan yang dikenal sebagai “Baitul Mal.” Pada Masa itu Rasulullah telah mendidik beberapa sahabat rasul mengenai pencatatan keuangan agar terdapat regenerasi yang dapat menggunakan pencatatan keuangan secara lebih fokus dan khusus dalam administrasi Negara. Dan para sahabat yang menangani hal tersebut memiliki sebutan Hafazhatul amwall pengawas keuangan. Diantara bukti seriusnya persoalan ini adalah dengan diturunkannya ayat terpanjang didalam Al-Qur'an, yaitu surah al-Baqarah ayat 282. Ayat ini menjelaskan fungsi-fungsi pencatatan (Kitabah), dasar-dasarnya dan manfaat-manfaatnya, seperti yang diterangkan oleh kaidah-kaidah hukum. Adapun tujuan pembukuan bagi mereka di waktu itu adalah untuk mengetahui utang-utang dan piutag serta keterangan perputaran uang, seperti pemasukan dan pegeluaran. Juga, difungsikan untuk merinci dan menghitung keuntungan dan kerugian, serta untuk menghitung harta keseluruhan untuk menentukan kadar zakat yang harus dikeluarkan oleh masing-masing individu.
      Setelah meninggalnya Rasulullah, maka masa kepemimpinan digantikan oleh Abu Bakar sidik (632-634 M), dimana pada masa kepemimpinan ini, abu bakar telah melakukan pencatan-pencatan yang terus dilakukan oleh para akhli, terkait dengan uang yang keluar dan uang yang masuk, guna untuk laporan kepada masyarakat dan baitu maal. Setelah wafatnya Abu Bakar, maka kepemimpinan di gantikan oleh Umar Bin Khatab (634-644 M) Kemajuan perekonomian di zaman Umar Bin Khatab memang sangat berkembang, dapat dilihat dari banyaknya unsur-unsur yang berkembang di daerah arab. Pembentukan mata uang, pendirian Baitu Maal, dan penetapan pajak juga dilakukan secara ketat. Tentu saja hal tersebut menjadi suatu bukti yang nyata, bahwa pada masa umar pun masih ada kehidupan akuntansi yang masih diaplikasikan, terlihat sari banyaknya bentuk-bentuk pencatatn yang dilakukan oleh Umar demi memajukan daerah kekuasaanya.    Setelah Umar wafat, maka kepemimpinan digantikan oleh Ustman Bin Affan (644-655 M), pada masa Ustman ini, banyak peraturan-peraturan yang telah disembunyikan oleh Ustman yang telah dibuat oleh Umar, terkait atas apa yang telah menjadi kewajiban masyarakat dalam pembayaran harta. Tapi tentu saja hal tersebut juga tidak terlepas dari ilmu pencatatan yang telah dilakukan Ustman, untuk laporan keuangan baitul mal yang harus dipertanggung jawabkan oleh masyarakat. Setelah Ustman meninggal, kepemimpinan berpindah pada Ali Bin Abi Thalib (655-661 M). Dimana pada masa ini Khalifah Ali dalam melaksanakan tugasnya mempunyai konsep yang jelas tentang pemerintahan, dia mampu meberikan job description yang jelas kepada semua elemen pemerintahan yang terkait dibidangnya. Di masa ini pula dengan jelas ali meminta kepada pejabat tinggi di pemerintahannya untuk membentuk pengadaan bendahara, dimana perbendaharaan biasanya tidak terlepas dari pencatatan atau accounting.
      Wafatnya Ali Bin Abi Thalib bukan akhir dari segalanya, setelah itu munculah kepemimpinan pada masa Daulat Abbasiyah (132--232 H. /750-847 M.). Pada masa ini pula evolusi perkembangan pengelolaan buku akuntansi mencapai tingkat tertinggi. Akuntansi diklasifikasikan pada beberapa spesialisasi, antara lain; akuntansi peternakan, akuntasi pertanian, akuntansi bendahara, akuntansi konstruksi, akuntansi mata uang, dan pemeriksaan buku (auditing). Pada masa itu, sistem pembukuan telah menggunakan model buku besar, yang meliputi Jaridaj al-Kharaj (mirip receivable subsidiary ledger), Jaridah an-Nafaqat (jurnal pengeluaran), Jaridah al-Mal (jurnal dana), Jaridah al-Musadareen, pembukuan yang digunakan untuk mencatat penerimaan denda atau sita dari individu yang tidak sesuai syariah, termasuk dari pejabat yang korup.
      Sudah tampak jelas, kemunculan akuntansi syariah lebih dahulu dibanding dengan akuntansi konvensional. Hal tersebut tentu saja di dukung oleh penemuan-penemuan pencatatan, yang telah dilakukan pada massa Rasulullah hingga masa Daulah Abbasyiah. Untuk itu, seharusnya yang menjadi bapak akuntansi dunia bukanlah Lucas Pacioli, yang hanya mencatat prilaku pedagang dan membukunya dalam sebuah buku pada tahun 1949 M. Bila kita lihat kembali lagi, maka jarak antara buku yang terbitkan Lucas dengan diturunkannya Al-Quran pada 610 M (yang menjadi acuan akuntansi pada massa Rasulullah). Maka kita akan menemukan selisi 884 tahun, lebih dahulu Rasulullah telah menggunakan akuntansi, dibanding dengan Lucas Pasioli. Hanya saja, buku yang telah diterbitkan oleh Lucas dan dikembangkan oleh ilmuan barat, dibawa oleh penjajah dan diterapkan disetiap tanah jajahan yang mereka jajah. Jadi dengan begitu, Ilmu akuntansi Lucas Pasioli lebih berkembang dibanding dengan Ilmu akuntansi Rasulullah. Hingga pada akhirnya, ilmu akuntansi yang dituliskan Lucas telah mengalami kegagalan terkait dengan bunga, dan ilmu akuntansi yang telah diajarkan Rasulullah mengalami kebenaran terkait dengan bagi hasil, yang disebut dengan akuntansi syariah. Jadi bukan akuntansi syariah yang bersyadat, melainkan akuntansi konvensional lah yang keluar dari ajaran islam.
Penulis adalah Alumni FAI UMSU Jurusan Perbankan Syariah, dan Sekarang menjalani pendidikan Magister di UIN SU

2 komentar: