Oleh
: Riyan Pradesyah
(Waspada, 29 Desember 2015)
Akuntansi,
sebuah kata yang dapat membuat imajinasi kita akan berpikir tentang
angka-angka, buku besar, debit, kredit, neraca, saldo dan lain-lain. Tidak
dapat dipungkiri, ke adaan kata akuntansi memang dapat membuat kita untuk
memikirkan angka atau nominal-nominal yang terdapat di dalamnya. Untuk itu,
akuntasi juga dikatakan sebagai masternya ilmu perhitungan, yang di mana
didalamnya mengandung semua komponen perhitungan, dimulai dari perkalian,
penjumlahan, pembagian dan pengurangan.
Di dalam kehidupan sehari-hari, biasanya
kita juga menggunakan ilmu akuntansi yang secara tidak sengaja kita lakukan.
Misalnya, dalam pengelolaan uang yang kita terima setiap bulannya atau setiap
minggu, maka kita akan membagi uang tersebut ke dalam suber-sumber kebutuah kita
sehari-hari dengan cermat. Di dalam kejadian tersebut, tanpa sengaja kita sudah
mempraktikan ilmu akuntasi. Walaupun hal tersebut tidak kita tulis di dalam
buku atau pencatatan secara terperinci.
Sebelum penulis melanjutkan pembahasan
tentang akuntansi, penulis akan memaparkan terlebih dahulu pengertian akuntansi
menurut America Insitute of Certified Public Accounting (AICPA) mendefenisikan
akuntansi sebagai seni pencatatan, penggolongan, dan pengikhtisaran dengan cara
tertentu dengan ukuran moneter, transaksi dan kejadian-kejadian yang umumnya
bersifat keuangan termasuk menafsirkan hasil-hasilnya.
Berbica tentang akuntansi, maka kita
berbicara tentang Lucas Pacioli, yang kini dikenal sebagai bapak akuntasi
dunia. Beliau telah di katakana sebagai bapak akuntasi dunia, disebabkan oleh
bukunya yang berjudul “Summa de
Arithmatica, Geometrica, Proportioni et Proportionalita,” yang berisi
tentang pelajaran ilmu pasti, telah tersebar di benua eropa barat dan
dikembangkan oleh para ilmuan barat dengan acuan buku tersebut. Sebenarnya, di
dalam buku Luca Pacioli yang telah diterbitkan sejak tahun 1494, hanya
menjelaskan tentang metode sederhana yang telah digunakan oleh pedagang Venesia
selama zaman Renaisance Italia. Buku
inilah yang kemudian tersebar di benua Eropa Barat, semenjak abad ke 15, dan
kemudian dikembangkan kembali oleh para ahli-ahli akuntansi sehingga timbulah
beberapa sistem akuntansi dengan tetap mengacu pada metode yang digunakan oleh
Luca Pacioli. Sebagai contoh, beliau mendeskripsikan penggunaan jurnal dan
pembukuan, dan juga memperingatkan bahwa seseorang tidak boleh tidur di malam
hari apabila debit BELUM SAMA dengan kredit. Hal tersebutlah yang menjadikan
Luca Pacioli sebagai bapak akuntasi dunia, yang disebabkan oleh bukunya yang
telah dipakai dalam pengembangan ilmu akuntasi yang sekarang kita gunakan.
Bila
kita mengkaji lebih dalam lagi, maka kita akan menemukan pembukuan sebelum
zaman Luca Pacioli, yang dikenal dengan nama “Kitabat Al-Amwal,” atau
pencatatan uang. Kitabat Al-Amwal ini dikenal sejak pada zaman Rasulullah (1-23
Hijria), kitab tersebut digunakan dalam pencatatan keuangan disuatu lembaga
keuangan yang dikenal sebagai “Baitul Mal.” Pada Masa itu Rasulullah telah mendidik beberapa sahabat rasul mengenai
pencatatan keuangan agar terdapat regenerasi yang dapat menggunakan pencatatan
keuangan secara lebih fokus dan khusus dalam administrasi Negara. Dan para
sahabat yang menangani hal tersebut memiliki sebutan Hafazhatul amwall
pengawas keuangan. Diantara bukti seriusnya persoalan ini adalah dengan
diturunkannya ayat terpanjang didalam Al-Qur'an, yaitu surah al-Baqarah ayat
282. Ayat ini menjelaskan fungsi-fungsi pencatatan (Kitabah), dasar-dasarnya
dan manfaat-manfaatnya, seperti yang diterangkan oleh kaidah-kaidah hukum.
Adapun tujuan pembukuan bagi mereka di waktu itu adalah untuk mengetahui
utang-utang dan piutag serta keterangan perputaran uang, seperti pemasukan dan
pegeluaran. Juga, difungsikan untuk merinci dan menghitung keuntungan dan
kerugian, serta untuk menghitung harta keseluruhan untuk menentukan kadar zakat
yang harus dikeluarkan oleh masing-masing individu.
Setelah
meninggalnya Rasulullah, maka masa kepemimpinan digantikan oleh Abu Bakar sidik
(632-634 M), dimana pada masa kepemimpinan ini, abu bakar telah melakukan pencatan-pencatan
yang terus dilakukan oleh para akhli, terkait dengan uang yang keluar dan uang
yang masuk, guna untuk laporan kepada masyarakat dan baitu maal. Setelah
wafatnya Abu Bakar, maka kepemimpinan di gantikan oleh Umar Bin Khatab (634-644
M) Kemajuan perekonomian di zaman Umar Bin Khatab memang sangat berkembang,
dapat dilihat dari banyaknya unsur-unsur yang berkembang di daerah arab.
Pembentukan mata uang, pendirian Baitu Maal, dan penetapan pajak juga dilakukan
secara ketat. Tentu saja hal tersebut menjadi suatu bukti yang nyata, bahwa
pada masa umar pun masih ada kehidupan akuntansi yang masih diaplikasikan,
terlihat sari banyaknya bentuk-bentuk pencatatn yang dilakukan oleh Umar demi
memajukan daerah kekuasaanya. Setelah
Umar wafat, maka kepemimpinan digantikan oleh Ustman Bin Affan (644-655 M),
pada masa Ustman ini, banyak peraturan-peraturan yang telah disembunyikan oleh
Ustman yang telah dibuat oleh Umar, terkait atas apa yang telah menjadi
kewajiban masyarakat dalam pembayaran harta. Tapi tentu saja hal tersebut juga
tidak terlepas dari ilmu pencatatan yang telah dilakukan Ustman, untuk laporan
keuangan baitul mal yang harus dipertanggung jawabkan oleh masyarakat. Setelah
Ustman meninggal, kepemimpinan berpindah pada Ali Bin Abi Thalib (655-661 M).
Dimana pada masa ini Khalifah Ali dalam melaksanakan tugasnya mempunyai konsep
yang jelas tentang pemerintahan, dia mampu meberikan job description yang jelas
kepada semua elemen pemerintahan yang terkait dibidangnya. Di masa ini pula
dengan jelas ali meminta kepada pejabat tinggi di pemerintahannya untuk
membentuk pengadaan bendahara, dimana perbendaharaan biasanya tidak terlepas
dari pencatatan atau accounting.
Wafatnya Ali Bin Abi Thalib bukan
akhir dari segalanya, setelah itu munculah kepemimpinan pada masa Daulat
Abbasiyah (132--232 H. /750-847 M.). Pada masa ini pula evolusi
perkembangan pengelolaan buku akuntansi mencapai tingkat tertinggi. Akuntansi
diklasifikasikan pada beberapa spesialisasi, antara lain; akuntansi peternakan,
akuntasi pertanian, akuntansi bendahara, akuntansi konstruksi, akuntansi mata
uang, dan pemeriksaan buku (auditing). Pada masa itu, sistem pembukuan telah
menggunakan model buku besar, yang meliputi Jaridaj al-Kharaj (mirip receivable
subsidiary ledger), Jaridah an-Nafaqat (jurnal pengeluaran), Jaridah al-Mal
(jurnal dana), Jaridah al-Musadareen, pembukuan yang digunakan untuk mencatat
penerimaan denda atau sita dari individu yang tidak sesuai syariah, termasuk
dari pejabat yang korup.
Sudah tampak jelas, kemunculan akuntansi
syariah lebih dahulu dibanding dengan akuntansi konvensional. Hal tersebut
tentu saja di dukung oleh penemuan-penemuan pencatatan, yang telah dilakukan
pada massa Rasulullah hingga masa Daulah Abbasyiah. Untuk itu, seharusnya yang
menjadi bapak akuntansi dunia bukanlah Lucas Pacioli, yang hanya mencatat
prilaku pedagang dan membukunya dalam sebuah buku pada tahun 1949 M. Bila kita
lihat kembali lagi, maka jarak antara buku yang terbitkan Lucas dengan
diturunkannya Al-Quran pada 610 M (yang menjadi acuan akuntansi pada massa
Rasulullah). Maka kita akan menemukan selisi 884 tahun, lebih dahulu Rasulullah
telah menggunakan akuntansi, dibanding dengan Lucas Pasioli. Hanya saja, buku
yang telah diterbitkan oleh Lucas dan dikembangkan oleh ilmuan barat, dibawa
oleh penjajah dan diterapkan disetiap tanah jajahan yang mereka jajah. Jadi
dengan begitu, Ilmu akuntansi Lucas Pasioli lebih berkembang dibanding dengan
Ilmu akuntansi Rasulullah. Hingga pada akhirnya, ilmu akuntansi yang dituliskan
Lucas telah mengalami kegagalan terkait dengan bunga, dan ilmu akuntansi yang
telah diajarkan Rasulullah mengalami kebenaran terkait dengan bagi hasil, yang
disebut dengan akuntansi syariah. Jadi bukan akuntansi syariah yang bersyadat,
melainkan akuntansi konvensional lah yang keluar dari ajaran islam.
Penulis adalah Alumni
FAI UMSU Jurusan Perbankan Syariah, dan Sekarang menjalani pendidikan Magister
di UIN SU










